Kamis

Sesegar Telaga Kautsar

Lake Photography



Ustadz Muhammad Arifin Ilham


Kebahagiaan hidup di dunia ini bermula dari merasakan halaawatul iimaan (manisnya iman). Dan, halaawatul iimaan adalah buah dari al-Mujaahadah fii thaa'atillah (kesungguhan untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah subhanahu wata'ala). Allah memberi hidayah halaawatul iimaan kepada hamba-Nya, karena hamba itu terus-menerus "merayu" ridha-Nya dengan kemurnian akidah, kenikmatan beribadah, dan kemuliaan akhlak. Seseorang akan merasakan nikmatnya beribadah ketika ia konsisten melaksanakan ketaatan kepada-Nya.




Ibarat seorang musafir (pemudik) yang menempuh perjalanan ke suatu tempat. Dia akan merasa senang ketika akan memulai perjalanan, juga ketika masih dalam perjalanan. Puncak perasaan senang itu datang saat ia telah sampai ke tempat yang ditujunya.

Diumpamakan juga seperti anak kedl yang diajak be¬rekreasi oleh orang tuanya. Dia akan merasa gembira ketika orang tuanya menjanjikan hal itu. Dia akan lebih gembira lagi ketika ia dan orang tuanya mulai bersiap-siap untuk berangkat ke tempat itu. Puncak kegembiraannya adalah pada saat ia sampai ke tempat tujuan.

Diibaratkan juga seperti seorang yang akan menikah. Dia merasa senang pada saat-saat menjelang pernikahan¬nya. Terlebih lagi setelah pernikahan itu dilaksanakan.

Begitu juga dengan seorang hamba yang beribadah kepada Allah swt. Dia akan melaksanakan ibadahnya dengan senang hati, khusyuk, dan nikmat. Puncak kenikmatan beribadahnya dirasakan pada saat menjelang kematian. Dia akan merasakan kebahagiaan. Karena itulah pintu per¬temuannya dengan Allah subhanahu wata'ala. Zat yang selalu diibadahinya dengan segenap perasaan tunduk dan cinta selama hidup¬nya di dunia.

“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya diantar ke dalam surga secara berombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke surga dan pintu-pintunya telah dibukakan, penjaga-penjaganya berkata kepada mereka: ‘Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Masukilah surga ini, kamu kekal di dalamnya". (Az-Zumar:73)
--------
dikutip dari buku: Sesegar Telaga Kautsar (Hudzaifah Ismail - Senayan Publishing)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

" resent post "