Rabu

berguru pada Jibril


Penjelasan Imam An-Nawawi Hadits no.2 tentang Iman, Islam, Ihsan:
(hadits 61 dalam riyadhus sholihin)

Menurut pengertian bahasa, iman adalah membenarkan secara umum. Dan menurut pengertian syari’at, iman adalah ungkapan tentang pembenaran secara khusus, yakni percaya atau membenarkan Allah, malaikat-Nya, rasul-Nya, hari akhir, takdir yang baik maupun yang buruk. Sementara Islam adalah ungkapan tentang melakukan kewajiban, yakni tunduk kepada amal yang bersifat lahiriah. Sesungguhnya Allah membedakan antara Iman dan Islam dalam firman-Nya:
49:14 “Orang-orang Arab Badui itu berkata, ‘kami telah beriman’. Katakanlah, ‘kamu belum beriman, tapi katakanlah, ‘kami telah tunduk.”





Hal itu karena orang-orang munafik juga shalat, berpuasa, dan bersedekah. Namun hati mereka ingkar. Ketika mereka mengaku beriman, Allah mendustakan pengakuan mereka itu, karena mereka mengingkarinya dalam hati. Tetapi Allah membenarkan pengakuan mereka atas keislaman, karena mereka mempraktekkannya (63:1). Syarat membenarkan risalah ialah lisan dan hati harus menyatu padu. Karena mengaku-ngaku dengan berdusta, maka Allah pun menjelaskan kedustaan mereka. Dikarenakan iman menjadi syarat bagi keabsahan islam maka Allah mengecualikan orang-orang mukmin dan orang-orang yang berserah diri.

Sabda Rasulullah saw, “...dan kepada takdir yang baik dan buruk.” Menurut pendapat sebagian ulama, yakni mengakui takdir. Artinya, Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi telah menentukan segala sesuatu sejak dahulu kala, dan Dia tahu hal itu pasti akan terjadi dalam waktu-waktu tertentu di sisi-Nya, dan di tempat-tempat tertentu. Semua itu terjadi sesuai dengan apa yang telah ditentukan oleh Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya takdir itu ada empat:
1. Takdir dalam ilmu. Itulah sebabnya dikatakan, perhatian sebelum kasih sayang, kebahagiaan sebelum kelahiran, dan hal-hal yang menyusul itu berdasarkan hal-hal yang sudah ada terlebih dahulu (sebab-akibat). Allah Ta’ala berfirman:
51:9 “Dipalingkan daripadanya orang yang dipalingkan.”
Maksudnya, ia dipalingkan dari mendengar al-Qur’an dan dari iman kepadanya di dunia. Rasulullah saw bersabda, “Hanya orang binasa yang ingin membinasakan Allah.” Yaitu orang yang telah ditentukan dalam ilmu Allah bahwa ia adalah orang yang binasa.
2. Takdir dalam Lauh Mahfuzh.
Inilah takdir yang mungkin bisa berubah. Allah Ta’ala berfirman:
13:39 “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh).”
Bersumber dari Ibnu Umar ra, sesungguhnya ia berkata dalam doanya, “Ya Allah, jika Engkau menentukan aku sebagai orang yang celaka, tolong hapus itu dan tentukan aku sebagai orang yang beruntung.”
3. Takdir dalam rahim.
Karena ada malaikat yang diperintahkan oleh Allah untuk menulis tentang rezeki, ajal, dan amalnya, serta apakah ia orang yang celaka atau orang yang beruntung.
4. Mengarahkan hal-hal yang ditentukan kepada waktu-waktu yang telah ditentukan.
Allah Ta’ala menciptakan kebaikan dan keburukan. Allah menentukan kedatangan-Nya kepada seorang hamba pada waktu tertentu. Dalil yang menunjukkan bahwa Allah menciptakan kebaikan dan keburukan ialah QS 54:47-49. Allah juga berfirman: 113:1-2 “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Rabb yang menguasai shubuh dari kejahatan makhluk-Nya.”
Pada bagian ini jika tidak ada kelembutan Allah kepada seorang hamba, niscaya Allah akan berpaling darinya sebelum ia sampai kepada-Nya. Disebutkan dalam sebuah hadits diriwayatkan oleh Al-Hakim, “Sesungguhnya doa dan bencana bertengkar di antara langit dan bumi. Doa berusaha menolak bencana sebelum ia turun.”

Orang-orang dari kalangan Qodariyah menganggap bahwa Allah Ta’ala tidak mentakdirkan segala sesuatu pada zaman azali, dan ilmu Allah juga tidak mendahuluinya. Sesungguhnya hal itu merupakan permulaan, dan Allah pun baru mengetahui setelah terjadi. Mereka benar-benar mendustakan Allah dengan ucapan-ucapan mereka yang bohong. Mereka menciptakan fitnah. Pada zaman terakhir orang Qodariyah mengatakan, ”kebaikan itu dari Allah, dan keburukan itu dari selain-Nya.” Maha Suci Allah dari ucapan mereka itu.

Beliau bersabda ketika di tanya tentang ihsan, “Ihsan ialah Anda beribadah menyembah Allah seakan-akan Anda melihat-Nya.” Inilah yang disebut maqam musyahadah. Sebab orang yang diperkirakan bisa menyaksikan Allah, ia pasti merasa malu melihat selain-Nya dalam shalat, atau hatinya akan sibuk memikirkan selain-Nya. Maqam ihsan adalah maqam para shiddiqin.

Beliau bersabda ketika ditanya tentang kiamat, “Yang ditanya belum tentu lebih tahu daripada yang bertanya.” Jawaban ini membuktikan bahwa Rasulullah saw memang tidak mengetahui tentang kiamat, karena memang hanya Allah sajalah yang mengetahuinya,
31:34 “Sesunggunya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat.”

Beliau bersabda ketika ditanya tentang tanda-tanda kiamat, “Yaitu jika ada seorang budak perempuan melahirkan tuannya.” Ini mengabarkan tentang banyaknya gundik dan anak-anaknya. Sebab, anak yang dilahirkan oleh seorang budak perempuan dari tuannya, statusnya sama saja seperti tuannya, karena harta seseorang itu kembali kepada anaknya. Ada yang mengatakan yang dimaksud ialah seorang budak perempuan yang melahirkan seorang raja, sehingga status budak tersebut adalah ibunya yang berasal dari rakyatnya sendiri. Atau mungkin yang dimaksud ialah seseorang meminta budak perempuan untuk melahirkan anak. Ketika si anak sudah besar, orang itu menjual budak perempuannya tersebut, dan di beli oleh anaknya sendiri sehingga ia bisa disebut membeli ibunya sendiri. Inilah salah satu tanda-tanda kiamat.
Sabda Rasulullah saw, “Dan jika kamu melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan menggembala domba berlomba-lomba meninggikan bangunannya”, maksudnya bahwa penduduk dusun dan orang-orang miskin saling bersaing meninggikan bangunan demi kebanggaan karena mereka berubah menjadi orang-orang yang kaya.

“Dan setelah aku berdiam beberapa waktu,” atau “Setelah beliau berdiam beberapa waktu.” Kedua reaksi ini sama-sama benar. Maksudnya, setelah beberapa waktu yang cukup lama. Dalam riwayat Abu Daud dan At-Tirmidzi disebutkan, “....selama tiga hari”. Bahkan dalam kitab Syarah Al-Tanbih oleh al-Baghawi disebutkan, “...tiga hari lebih”. Yang jelas lamanya lebih dari tiga malam. Sementara sabda Rasulullah saw, “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian” merupakan petunjuk bahwa iman, islam, dan ihsan semuanya disebutkan dalam agama. Dan dalam hadits ini ada petunjuk atas kewajiban beriman kepada takdir, kewajiban tidak usah memperdalam perkara, dan kewajiban ridha terhadap ketentuan Allah.

Seseorang menemui imam Ahmad bin Hanbal lalu berkata, “Tolong beri aku nasihat.” Beliau berkata,
“Kalau Allah Ta’ala sudah menjamin rezeki, apalagi keinginanmu? Kalau dermawan atas harta Allah itu sudah semestinya, kenapa kamu harus kikir? Jika surga itu benar adanya, kenapa kamu harus mencari kesenangan? Kalau neraka itu benar-benar ada, kenapa kamu berbuat durhaka? Kalau malaikat Munkar dan Nakir benar adanya, kenapa kamu mencari hiburan? Kalau dunia itu fana’, kenapa kamu merasa tenteram padanya? Kalau hisab itu benar adanya, kenapa kamu masih terus sibuk mengumpulkan harta kekayaan? Dan kalau segala sesuatu ditentukan dengan takdir, kenapa kamu merasa takut?”

Penulis kitab Maqamat Al –Ulama’ mengatakan,
Sesungguhnya dunia itu dibagi menjadi dua puluh lima bagian. Lima bagian ada pada takdir, lima bagian ada pada kerja keras, lima bagian ada pada kebiasaan, lima bagian ada pada kemuliaan, dan lima bagian lagi ada pada warisan.

Lima bagian yang ada pada takdir ialah rezeki, anak, keluarga, kekuasaan, dan usia. Lima bagian yang ada pada usaha keras ialah surga, neraka, kesucian, kepintaran, dan tulisan. Lima bagian yang ada pada kebiasaan ialah makan, tidur, berjalan, menikah, dan kewibawaan. Dan lima bagian yang ada pada warisan ialah kebaikan, suka silaturrahmi, dermawan, jujur, dan amanat.
Itu semua tidak menafikan sabda Rasulullah saw, “Segala sesuatu karena suratan takdir.” (diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Ausath VI/147). Tetapi yang dimaksud ialah sebagian hal-hal tersebut terwujud ada karena sebab, dan sebagian lagi ada yang tanpa sebab. Tetapi yang jelas semuanya adalah karena suratan takdir.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

" resent post "